by: Nur Azizah (10410161)
FAKULTAS PSIKOLOGI
UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
TAHUN 2012
A. LATAR BELAKANG
Saat
hamil rasa makan seorang wanita menjadi
bertambah. Karena selain mensuplai nutrisi tubuhnya, nutrisi itu juga harus
dibagi untuk calon individu yang ada dalam perutnya.
Makanan
yang umumnya diinginkan oleh ibu hamil adalah buah yang masam, makanan pedas,
asin, dll. Hal inilah yang disebut mengidam makanan (craving-food). Ngidam adalah reaksi untuk melawan
ketidaknyamanan tubuh secara psikologis yang diakibatkan peningkatan hormon
kehamilan. Misalnya hormon HCG (Human Chorionic Gonadotropin) dalam
tubuh yang dihasilkan oleh plasenta janin, sehingga menyebabkan reaksi mual dan
muntah, meningkatnya kadar progesterone yang berpengaruh pada fungsi dan
metabolisme tubuh, salah satunya pada organ pencernaan dan produksi air liur.
Namun,
seringkali dijumpai perilaku ngidam yang tidak logis (non craving-food),
yaitu keinginan yang tidak ada hubungan secara langsung dengan janin, misalnya
menginginkan makanan namun harus suaminya yang membelikan, mengidam emas,
mengidam makan Koran, dll. Ngidam makan namun yang bukan makanan itulah yang
disebut pika. Gejala pika adalah terus menerus makan zat yang tidak bergizi
(PPDGJ-III, 2001). Pika selama kehamilan adalah fenomena seluruh dunia, tetapi
di Amerika Serikat telah dipelajari sebagian besar di Selatan, dengan laporan
dari Midwest. Prevalensi pica pada ibu hamil telah dilaporkan dari yang
terendah 0% sampai setinggi 68% dalam studi berbagai kelompok. Factor
penyebabnya pun juga bervariasi antara
beberapa studi. Diantaranya yaitu karena factor ras, kekurangan nutrisi, dan
aspek social budaya.
Beberapa wanita
mengatakan ngidam yang terjadi pada mereka –baik craving food, non craving
food, dan pika- datang secara tiba-tiba dan atas keinginan sang calon bayi.
Sebagian dari mereka mempercayai bahwa ketika ngidam mereka tidak terpenuhi,
kelak anak mereka akan sering mengeluarkan air liur. Hal inilah yang telah
membudaya diantara para wanita hamil di desa tersebut. Menurut Kotler dan
Armstrong (2004, p.180) kebudayaan adalah nilai-nilai dasar, persepsi,
keinginan, dan perilaku yang dipelajari oleh anggota suatu masyarakat.
Kebudayaan merupakan factor penentu keinginan dan perilaku seseorang yang
paling mendasar. Mempelajari perilaku ngidam pada wanita hamil sama artinya
dengan mempelajari perilaku manusia, sehingga perilaku ngidam pada hamil dapat
juga ditentukan oleh kebudayaan, yang tercermin pada kepercayaan (beliefs),
cara
hidup (life style), kebiasaan dan tradisi.
Dalam
kenyataannya, kami mengamati bahwa ngidam yang sering terjadi di desa Lowayu
Dukun Gresik adalah ngidam non craving food. Karena itu kami melakukan
penelitian untuk menggali data tentang ngidam non craving food.
A. METODE PENELITIAN
Responden
Responden
dalam penelitian ini adalah 4 wanita hamil di desa lowayu dukun gresik, yaitu:
·
Seorang ibu rumah tangga yang berusia
20 tahun, suaminya merupakan seorang TKI (tenaga kerja Indonesia) yang merantau
di Malaysia, dan dengan usia kandungan 8 bulan 12 hari;
·
Seorang wanita berusia 23 tahun yang
mempunyai usaha laundry, suaminya bekerja di sebuah perusahaan terkenal di
Surabaya, dan dengan usia kandungan 4 bulan;
·
Seorang ibu rumah tangga berusia 42
tahun, suaminya bekerja sebagai penjual kerupuk, dan dengan usia kandungan 8
bulan;
·
Seorang ibu rumah tangga berusia 25
tahun, suamniya bekerja di kantor pembuatan sim, dan dengan usia kandungan 4
bulan.
Jenis penelitian
Penelitian ini
merupakan penelitian kualitatif eksploratif, dimana penelitian ini bertujuan
untuk
menggambarkan bagaimana perilaku ngidam non
craving food pada wanita hamil. Karena sifatnya yang eksploratif, maka hasil
dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi penelitian
selanjutnya di area yang relevan dengan hal yang digali dalam penelitian ini.
Pengukuran
Wawancara
Adalah
percakapan dengan maksud tertentu yang dilakukan oleh dua pihak, yaitu
pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai
(interview) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu. (Moleong, 2000:135).
Wawancara yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan wawancara tidak berstruktur, tidak
berstandard, informal, atau berfokus. dimulai
dari pertanyaan umum dalam area yang luas pada penelitian. Wawancara ini diikuti
oleh suatu kata kunci, agenda atau daftar topik yang akan dicakup dalam
wawancara, yaitu ngidam, ngidam yang bukan makanan, terpenuhi dan tidak
terpenuhinya ngidam. Jenis wawancara ini bersifat
fleksibel dan memungkinkan peneliti mengikuti minat dan pemikiran partisipan.
Pewawancara dengan bebas menanyakan berbagai pertanyaan kepada partisipan dalam
urutan manapun bergantung pada jawaban. Partisipan bebas menjawab, baik isi
maupun panjang pendeknya paparan, sehingga dapat diperoleh informasi yang dalam
dan rinci.
Namun
tidak ada pertanyaan yang ditetapkan sebelumnya kecuali dalam permulaan
wawancara. Wawancara yang digunakan dalam penelitian ini digunakan untuk
menggali data awal tentang perilaku ngidam non-craving food pada wanita hamil
di desa Lowayu Dukun Gresik.
A. HASIL DAN PEMBAHASAN
Data Demografi
Responden adalah wanita hamil yang ada di desa Lowayu Dukun Gresik dengan usia 20,
23, 25, dan 42 tahun. Semua laporan menyatakan bahwa mereka telah menikah. 3 di
antaranya adalah ibu rumah tangga dan yang 1 membuka usaha laundry di Malang.
Pendidikan tertinggi 2 wanita tersebut adalah SMA, sedangkan 2 responden
lainnya merupakan lulusan S1 di sebuah universitas negeri dan swasta di Malang.
Ketiga wanita tersebut didampingi suaminya selama masa kehamilan dan hanya 1
orang yang tidak sepenuhnya didampingi suaminya, karena suaminya adalah seorang
TKI yang merantau ke Negara lain.
Hasil
Bulan pertama kehamilan mereka mengatakan
belum ada perubahan secara fisik maupun psikis. Semuanya berjalan sebagaimana
biasanya. Perubahan fisik dan psikis mulai terjadi pada bulan kedua, seringnya
muntah, perubahan pola makan, dan labilnya emosi yang diakibatkan oleh perubahan
fisik tersebut.
Ngidam makanan (craving food)
Para responden mengatakan bahwa pada masa kehamilan, mereka lebih
menyukai makanan yang masam, pedas dan asin. Jenis makanan yang paling disukai
adalah rujak buah karena mencakup 3 rasa tersebut, selain itu kesegaran rujak
buah juga tidak menyebabkan mereka muntah.
Pada usia kandungan 2-3 bulan, beberapa wanita muntah ketika
mencium bau ikan, bau bumbu gado-gado, bau
nasi yang baru matang, bau chinese food, bau kaldu, gorengan, bahkan ada yang muntah
ketika minum air putih, jahe, permen, crackers, dan biscuit. Rasa ingin muntah
yang disebabkan bau makanan tersebut tentu sangat mempengaruhi pola makan dan
keadaan janin.
Hal
ini menimbulkan rasa panik dan takut pada ibu hamil akan janin mereka. Mereka pun
lebih sering marah. Ketika konsultasi ke dokter, dokter mengatakan bahwa
perilaku tersebut wajar dialami oleh ibu hamil. Namun ada 1 responden yang
mengatakan bahwa perilaku muntahnya berlebihan dan tidak mau makan apapun,
sehingga dia harus diinfus dan dirawat inap di rumah sakit selama satu hari.
Pada masa ini, rasa manja dan kasih sayang yang lebih selalu melekat pada
mereka.
Selain
mengalami rasa mual dan muntah, mereka juga mengalami ngidam pada makanan. Di
antaranya yaitu ngidam jajanan pasar, nasi goreng,
semangka, apel, nasi goreng dan cilok bakar Malang. Perasaan yang timbul ketika
keinginan atau ngidam itu datang adalah tergesa-gesa dan ingin segera dipenuhi
pada saat itu juga.
Pada bulan keempat,
mereka mengatakan bahwa mereka sudah bisa merasakan gerakan janin. Di usia
kandungan 4-6 bulan ini mereka
mengatakan emosinya sudah mulai kembali normal. Yaitu menjadi lebih sabar dan
pengertian dari sebelumnya. Rasa manja dan ingin selalu disayang suami masih
ada. Namun, nafsu makan mereka di bulan-bulan ini menjadi tak terkendali.
Seorang responden mengatakan bahwa dia bisa makan empat sampai lima kali dalam
sehari dengan porsi makan yang sangat banyak. Responden lain mengatakan mereka
sering bangun malam karena merasa sangat lapar, maka dia sudah menyiapkan
buah-buahan untuk dimakan di malam hari. Mereka mengatakan janin mereka
biasanya menendang di malam hari.
Bulan ke-7 sampai ke-8, secara fisik
perut mereka sudah terlihat sangat besar. Mereka mengatakan sering ngos-ngosan
kalau jalan kaki atau naik tangga. Kepala janin seringkali “ngedusel” yang
bikin vagina terasa ngilu. Akibatnya, mereka tidak bisa jalan cepat dan bergerak tiba-tiba karena akan
menyebabkan sakit yang teramat sangat di bagian bawah. Mereka mengatakan susah
susah bangun dari posisi tidur. Mereka harus miring terlebih dahulu agar bisa
bangun.
Emosi mereka di
bulan-bulan akhir masa kehamilan ini kembali labil. Mereka sering marah karena
selain capek fisik, mereka juga capek psikis. Hal ini dikarenakan ketakutan
menghadapi proses kelahiran yang akan dijalani dan takut akan kondisi anak
mereka.
Ngidam yang bukan makanan (non
craving food)
Pada bulan kedua, 2 di antara 4 responden akan muntah ketika
mencium bau suaminya. Bahkan salah satu responden mengatakan bahwa ketika
tidur, dia harus pisah tempat tidur dengan suaminya karena selalu muntah jika
dekat dengan suaminya. Perilaku itu berlangsung selama bulan ke-2 sampai bulan
ke-3. Muntah pada saat itu berwarna kuning, ketika dikonsultasikan ke dokter,
hal itu bukanlah gangguan, namun janin yang ada dalam kandungan mengeluarkan
makanan yang masuk dalam mulutnya (dalam istilah jawa disebut gumo). Pada bulan ini, ada salah satu
responden yang juga muntah ketika mencium bau detergen, maka dia pun tidak
melakukan aktivitas apap pun, sehingga berat badan dan tekanan darahnya
menurun.
Emosi yang terjadi pada bulan itu adalah sering marah, karena
mereka selalu ingin muntah ketika mencium bau suami, padahal mereka sedang
dalam keadaan manja(rewel) dan sangat membutuhkan bantuan suami.
Namun, responden yang lain mengatakan bahwa pada usia kandungan
ke-1 sampai ke-2, dia sangat menyukai atau mengidam bau ketiak suaminya.
Pada bulan ke-5, seorang responden mengatakan bahwa perilakunya
seperti anak-anak. Yaitu dia mengidam naik mainan anak-anak. Karena takut
anaknya kelak sering mengeluarkan air liur (ngileran, dalam istilah jawa), maka
dia pun menuruti ngidamnya naik mainan anak-anak bersama anak-anak kecil. Namun
setelah selesai naik permainan itu, dia merasa sakit perut dan embrio yang ada
dalam kandungannya selalu bergerak dan berputar-putar. Dia yakin bahwa embrio
yang ada dalam perutnya kaget ketika naik permainan itu, meskipun setelah
konsultasi ke dokter, dokter mengatakan tidak terjadi apa-apa.
Pada usia kandungan ke 7-8 bulan, ngidam yang sangat diinginkan
mereka adalah berhubungan intim dengan suami. Salah satu responden mengatakan
bahwa keinginan berhubungan intim itu 3 kali lipat dari pada keinginan di
waktu-waktu biasanya. Hal ini sulit dilakukan oleh responden yang suaminya
tidak berada di rumah atau merantau. Maka dia menyuruh suaminya pulang pada
usia kehamilannya yang ke-8 bulan untuk memenuhi ngidamnya dan mendampinginya
ketika melahirkan. Mereka merasa resah dan kecewa jika rasa ngidam mereka tidak
terpenuhi.
Pantangan selama kehamilan
Pantangan
yaitu larangan yang tidak boleh dilakukan oleh wanita hamil. Tidak ada
pantangan dari dokter untuk wanita hamil, asalkan makanan yang dikonsumsi
adalah sehat. Selain menyarankan agar mengonsumsi makanan sehat, seorang wanita
hamil juga disarankan untuk sering jalan-jalan dan melakukan senam untuk ibu
hamil agar janin selalu sehat dan memudahkan proses persalinan.
Meskipun
demikian, para responden menjauhi hal-hal yang mereka anggap akan mengganggu
kesehatan bayi dan mempersulit proses kelahiran. pantangan itu ddi antaranya
adalah:
·
Tidak mandi pada waktu magrib
Mereka meyakini anak mereka akan menjadi
nakal jika saat hamil mereka mandi pada waktu magrib. Karena waktu magrib
adalah tempatnya kejelekan (dalam istilah Jawa disebut sandek olo)
·
Tidak menjahit
Mereka meyakini bahwa jika saat hamil, mereka
menjahit, anak mereka tidak akan lahir normal, yang keluar pertama kali adalah
kakinya dan kepalanya terakhir (dalam istilah Jawa disebut sungsang).
·
Tidak duduk di tengah pintu
Karena mereka yakin anak mereka akan sulit
keluar ketika masa persalinan.
·
Tidak makan di dapur
Mereka meyakini jika mereka makan di dapur,
maka anaknya akan bermulut besar.
·
Tidak makan sayur lembayung
Jika mereka makan sayur lembayung, mereka
yakin yang lebih dahulu keluar dalam persalinan adalah darah, bukan air ketuban
(dalam istilah Jawa disebut warkidang)
·
Tidak makan terong agar anaknya tidak
memiliki fisik yang lemah.
·
Tidak makan telur agar anaknya keluar
dari kandungan dengan lancar.
Keyakinan
pantangan-pantangan itu juga telah diterapkan oleh wanita-wanita hamil sebelum
mereka.
Pembahasan
Dari
hasil di atas dapat diketahui bahwa pada bulan pertama kehamilan mereka tidak
mengalami perubahan fisik dan psikis.
Pada
bulan ke-2 sampai ke-3 pola makan mereka berubah, ketertarikan makan menurun
drastis. Karena mereka selalu merasa mual dan muntah. Hal ini karena telah
diproduksinya hormon HCG (Human Chorionic Gonadotropin) dalam tubuh yang
dihasilkan oleh plasenta janin, sehingga menyebabkan reaksi mual dan muntah.
Perilaku mereka menjadi manja dan selalu ingin disayang oleh suami. Emosi yang
sering terjadi pada mereka adalah marah karena mereka sering mencium bau tidak
menyenangkan yang membuat mereka harus sering muntah. Mereka juga mengalami
kepanikan dan ketakutan atas keadaan janin mereka karena mereka penurunan
ketertarikan makan tersebut.
Pada
bulan ke-4 sampai ke-6, ketertarikan makan mereka meningkat. Emosi mereka juga
sudah mulai kembali normal. Yaitu menjadi lebih sabar dan pengertian dari pada
sebelumnya, meskipun perilaku manja dan selalu ingin disayang oleh suami tetap
ada.
Pada
bulan ke-7 sampai ke-8, mereka kesulitan untuk beraktifitas karena besarnya
kandungan mereka, bahkan juga sulit untuk bangun tidur. Emosi mereka menjadi
labil kembali. Mereka sering marah, cemas, dan takut karena capek dan akan
menghadapi proses persalinan.
Perilaku
yang mereka tunjukkan juga mengindikasikan bahwa perilaku ngidam dan ketakutan
dalam menjauhi sesuatu yang mereka percayai juga dipengaruhi factor budaya. Hal
ini sebagaimana pendapat dari Kotler dan Armstrong (2004, p.180) kebudayaan
adalah nilai-nilai dasar, persepsi, keinginan, dan perilaku yang dipelajari
oleh anggota suatu masyarakat. Kebudayaan merupakan factor penentu keinginan
dan perilaku seseorang yang paling mendasar.
B. PENUTUP
Kesimpulan
Beberapa hal utama yang terungkap dalam
penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut:
·
Perilaku ngidam disebabkan oleh
beberapa factor, di antaranya yaitu factor hormonal yang diproduksi selama masa
kehamilan dan factor budaya.
·
Hormone kehamilan yang diproduksi
adalah HCG (Human Chorionic Gonadotropin) pada plasenta janin yang menyebabkan reaksi mual dan muntah.
·
Factor
budaya juga mempengaruhi perilaku ngidam wanita hamil, mereka selalu berusaha
untuk memenuhi rasa ngidam mereka agar anaknya menjadi anak yang normal, tidak
sering mengeluarkan air liur. Dan mereka juga menjauhi hal-hal yang mereka
yakini akan menimbulkan kesulitan dan keabnormalan pada anak mereka, yang telah
membudaya di desa itu.
·
Emosi yang
meraka alami sangat labil, mereka sering marah, cemas dan khawatir atas keadaan
bayinya, takut dalam menghadapi proses persalinan, dan lebih manja serta
menginginkan kasih sayang yang lebih dari suaminya.
Implementasi
Penelitian ini bisa diterapkan untuk memahami
emosi wanita hamil yang labil, agar para suami dan orang-orang yang berhubungan
dengan wanita hamil bisa mengerti dan memahami perasaan mereka.
Peneliti menyadari
bahwa penelitian ini bersifat eksploratif yang masih dalam taraf penggalian
dasar, oleh karena itu diperlukan penelitian-penelitian lanjutan yang lebih
mendalam dengan tema yang sama. Ataupun mendapatkan ide baru dari penelitian
ini untuk penelitian baru dan mendalam pada masa yang akan datang.
Referensi
Chemical Senses ©
Oxford University Press 2004, vol. 29 no. 5. A Longitudinal Descriptive Study of Self-reported Abnormal Smell and
Taste Perception in Pregnant Women. Nordin,
Steven, dkk. Department of Psychology, Umeå University, Sweden, San
Diego State University, USA and Department of Clinical Sciences, Obstetrics and
Gynecology.
West J Med Volume 173. July 2000. Pica during pregnancy in low-income women
born in Mexico. Simpson, Ellen, dkk. Division of Human Genetics Department
of Pediatrics University of California, Irvine Medical Center Orange, CA 92668.
The American Journal Of Clinical Nutrition.
1999; 70: 277-84. Printed in USA. Sweet taste and intake of sweet foods in
normal pregnancy and pregnancy complicated by gestational diabetes mellitus.
Befevly J. Tepper.
Wijaya, Serli. Studi
Eksploratif Perilaku Mahasiswa Uk. Petra Dalam Memilih Fast Food Restaurant Dan Non
Fast Food Restaurant Di Surabaya. Faculty of Economics Petra
Christian University.
http://www.ayahbunda.co.id/Artikel/Gizi+dan+Kesehatan/Kehamilan/kiat.mengendalikan.ngidam.ibu.hamil/001/001/1027/3

Tidak ada komentar:
Posting Komentar