Senin, 14 Mei 2012

STUDI EKSPLORATIF PERILAKU NGIDAM NON-PANGAN (NON CRAVING FOOD) PADA WANITA HAMIL DI DESA LOWAYU DUKUN GRESIK

by: Nur Azizah (10410161)
FAKULTAS PSIKOLOGI
UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
TAHUN 2012
A.   LATAR BELAKANG
Saat hamil rasa makan seorang wanita  menjadi bertambah. Karena selain mensuplai nutrisi tubuhnya, nutrisi itu juga harus dibagi untuk calon individu yang ada dalam perutnya.
Makanan yang umumnya diinginkan oleh ibu hamil adalah buah yang masam, makanan pedas, asin, dll. Hal inilah yang disebut mengidam makanan (craving-food).  Ngidam adalah reaksi untuk melawan ketidaknyamanan tubuh secara psikologis yang diakibatkan peningkatan hormon kehamilan. Misalnya hormon HCG (Human Chorionic Gonadotropin) dalam tubuh yang dihasilkan oleh plasenta janin, sehingga menyebabkan reaksi mual dan muntah, meningkatnya kadar progesterone yang berpengaruh pada fungsi dan metabolisme tubuh, salah satunya pada organ pencernaan dan produksi air liur.
Namun, seringkali dijumpai perilaku ngidam yang tidak logis (non craving-food), yaitu keinginan yang tidak ada hubungan secara langsung dengan janin, misalnya menginginkan makanan namun harus suaminya yang membelikan, mengidam emas, mengidam makan Koran, dll. Ngidam makan namun yang bukan makanan itulah yang disebut pika. Gejala pika adalah terus menerus makan zat yang tidak bergizi (PPDGJ-III, 2001). Pika selama kehamilan adalah fenomena seluruh dunia, tetapi di Amerika Serikat telah dipelajari sebagian besar di Selatan, dengan laporan dari Midwest. Prevalensi pica pada ibu hamil telah dilaporkan dari yang terendah 0% sampai setinggi 68% dalam studi berbagai kelompok. Factor penyebabnya pun  juga bervariasi antara beberapa studi. Diantaranya yaitu karena factor ras, kekurangan nutrisi, dan aspek social budaya.
Beberapa wanita mengatakan ngidam yang terjadi pada mereka –baik craving food, non craving food, dan pika- datang secara tiba-tiba dan atas keinginan sang calon bayi. Sebagian dari mereka mempercayai bahwa ketika ngidam mereka tidak terpenuhi, kelak anak mereka akan sering mengeluarkan air liur. Hal inilah yang telah membudaya diantara para wanita hamil di desa tersebut. Menurut Kotler dan Armstrong (2004, p.180) kebudayaan adalah nilai-nilai dasar, persepsi, keinginan, dan perilaku yang dipelajari oleh anggota suatu masyarakat. Kebudayaan merupakan factor penentu keinginan dan perilaku seseorang yang paling mendasar. Mempelajari perilaku ngidam pada wanita hamil sama artinya dengan mempelajari perilaku manusia, sehingga perilaku ngidam pada hamil dapat juga ditentukan oleh kebudayaan, yang tercermin pada kepercayaan (beliefs), cara hidup (life style), kebiasaan dan tradisi.
Dalam kenyataannya, kami mengamati bahwa ngidam yang sering terjadi di desa Lowayu Dukun Gresik adalah ngidam non craving food. Karena itu kami melakukan penelitian untuk menggali data tentang ngidam non craving food.
A.   METODE PENELITIAN
Responden
Responden dalam penelitian ini adalah 4 wanita hamil di desa lowayu dukun gresik, yaitu:
·         Seorang ibu rumah tangga yang berusia 20 tahun, suaminya merupakan seorang TKI (tenaga kerja Indonesia) yang merantau di Malaysia, dan dengan usia kandungan 8 bulan 12 hari;
·         Seorang wanita berusia 23 tahun yang mempunyai usaha laundry, suaminya bekerja di sebuah perusahaan terkenal di Surabaya, dan dengan usia kandungan 4 bulan;
·         Seorang ibu rumah tangga berusia 42 tahun, suaminya bekerja sebagai penjual kerupuk, dan dengan usia kandungan 8 bulan;
·         Seorang ibu rumah tangga berusia 25 tahun, suamniya bekerja di kantor pembuatan sim, dan dengan usia kandungan 4 bulan.
Jenis penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif eksploratif, dimana penelitian ini bertujuan untuk
menggambarkan bagaimana perilaku ngidam non craving food pada wanita hamil. Karena sifatnya yang eksploratif, maka hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi penelitian selanjutnya di area yang relevan dengan hal yang digali dalam penelitian ini.

Pengukuran
Wawancara
Adalah percakapan dengan maksud tertentu yang dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai (interview) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu. (Moleong, 2000:135). Wawancara yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan wawancara tidak berstruktur, tidak berstandard, informal, atau berfokus. dimulai dari pertanyaan umum dalam area yang luas pada penelitian. Wawancara ini diikuti oleh suatu kata kunci, agenda atau daftar topik yang akan dicakup dalam wawancara, yaitu ngidam, ngidam yang bukan makanan, terpenuhi dan tidak terpenuhinya ngidam. Jenis wawancara ini bersifat fleksibel dan memungkinkan peneliti mengikuti minat dan pemikiran partisipan. Pewawancara dengan bebas menanyakan berbagai pertanyaan kepada partisipan dalam urutan manapun bergantung pada jawaban. Partisipan bebas menjawab, baik isi maupun panjang pendeknya paparan, sehingga dapat diperoleh informasi yang dalam dan rinci.
Namun tidak ada pertanyaan yang ditetapkan sebelumnya kecuali dalam permulaan wawancara. Wawancara yang digunakan dalam penelitian ini digunakan untuk menggali data awal tentang perilaku ngidam non-craving food pada wanita hamil di desa Lowayu Dukun Gresik.
 
A.   HASIL DAN PEMBAHASAN
Data Demografi
Responden adalah wanita hamil yang ada  di desa Lowayu Dukun Gresik dengan usia 20, 23, 25, dan 42 tahun. Semua laporan menyatakan bahwa mereka telah menikah. 3 di antaranya adalah ibu rumah tangga dan yang 1 membuka usaha laundry di Malang. Pendidikan tertinggi 2 wanita tersebut adalah SMA, sedangkan 2 responden lainnya merupakan lulusan S1 di sebuah universitas negeri dan swasta di Malang. Ketiga wanita tersebut didampingi suaminya selama masa kehamilan dan hanya 1 orang yang tidak sepenuhnya didampingi suaminya, karena suaminya adalah seorang TKI yang merantau ke Negara lain.
Hasil
Bulan pertama kehamilan mereka mengatakan belum ada perubahan secara fisik maupun psikis. Semuanya berjalan sebagaimana biasanya. Perubahan fisik dan psikis mulai terjadi pada bulan kedua, seringnya muntah, perubahan pola makan, dan labilnya emosi yang diakibatkan oleh perubahan fisik tersebut.
Ngidam makanan (craving food)
Para responden mengatakan bahwa pada masa kehamilan, mereka lebih menyukai makanan yang masam, pedas dan asin. Jenis makanan yang paling disukai adalah rujak buah karena mencakup 3 rasa tersebut, selain itu kesegaran rujak buah juga tidak menyebabkan mereka muntah.
Pada usia kandungan 2-3 bulan, beberapa wanita muntah ketika mencium bau ikan, bau bumbu gado-gado, bau nasi yang baru matang, bau chinese food, bau kaldu, gorengan, bahkan ada yang muntah ketika minum air putih, jahe, permen, crackers, dan biscuit. Rasa ingin muntah yang disebabkan bau makanan tersebut tentu sangat mempengaruhi pola makan dan keadaan janin.
Hal ini menimbulkan rasa panik dan takut pada ibu hamil akan janin mereka. Mereka pun lebih sering marah. Ketika konsultasi ke dokter, dokter mengatakan bahwa perilaku tersebut wajar dialami oleh ibu hamil. Namun ada 1 responden yang mengatakan bahwa perilaku muntahnya berlebihan dan tidak mau makan apapun, sehingga dia harus diinfus dan dirawat inap di rumah sakit selama satu hari. Pada masa ini, rasa manja dan kasih sayang yang lebih selalu melekat pada mereka.
Selain mengalami rasa mual dan muntah, mereka juga mengalami ngidam pada makanan. Di antaranya yaitu ngidam jajanan pasar, nasi goreng, semangka, apel, nasi goreng dan cilok bakar Malang. Perasaan yang timbul ketika keinginan atau ngidam itu datang adalah tergesa-gesa dan ingin segera dipenuhi pada saat itu juga.
Pada bulan keempat, mereka mengatakan bahwa mereka sudah bisa merasakan gerakan janin. Di usia kandungan 4-6 bulan ini mereka mengatakan emosinya sudah mulai kembali normal. Yaitu menjadi lebih sabar dan pengertian dari sebelumnya. Rasa manja dan ingin selalu disayang suami masih ada. Namun, nafsu makan mereka di bulan-bulan ini menjadi tak terkendali. Seorang responden mengatakan bahwa dia bisa makan empat sampai lima kali dalam sehari dengan porsi makan yang sangat banyak. Responden lain mengatakan mereka sering bangun malam karena merasa sangat lapar, maka dia sudah menyiapkan buah-buahan untuk dimakan di malam hari. Mereka mengatakan janin mereka biasanya menendang di malam hari.
Bulan ke-7 sampai ke-8, secara fisik perut mereka sudah terlihat sangat besar. Mereka mengatakan sering ngos-ngosan kalau jalan kaki atau naik tangga. Kepala janin seringkali “ngedusel” yang bikin vagina terasa ngilu. Akibatnya, mereka tidak bisa jalan cepat  dan bergerak tiba-tiba karena akan menyebabkan sakit yang teramat sangat di bagian bawah. Mereka mengatakan susah susah bangun dari posisi tidur. Mereka harus miring terlebih dahulu agar bisa bangun.
Emosi mereka di bulan-bulan akhir masa kehamilan ini kembali labil. Mereka sering marah karena selain capek fisik, mereka juga capek psikis. Hal ini dikarenakan ketakutan menghadapi proses kelahiran yang akan dijalani dan takut akan kondisi anak mereka.
Ngidam yang bukan makanan (non craving food)
Pada bulan kedua, 2 di antara 4 responden akan muntah ketika mencium bau suaminya. Bahkan salah satu responden mengatakan bahwa ketika tidur, dia harus pisah tempat tidur dengan suaminya karena selalu muntah jika dekat dengan suaminya. Perilaku itu berlangsung selama bulan ke-2 sampai bulan ke-3. Muntah pada saat itu berwarna kuning, ketika dikonsultasikan ke dokter, hal itu bukanlah gangguan, namun janin yang ada dalam kandungan mengeluarkan makanan yang masuk dalam mulutnya (dalam istilah jawa disebut gumo). Pada bulan ini, ada salah satu responden yang juga muntah ketika mencium bau detergen, maka dia pun tidak melakukan aktivitas apap pun, sehingga berat badan dan tekanan darahnya menurun.
Emosi yang terjadi pada bulan itu adalah sering marah, karena mereka selalu ingin muntah ketika mencium bau suami, padahal mereka sedang dalam keadaan manja(rewel) dan sangat membutuhkan bantuan suami.
Namun, responden yang lain mengatakan bahwa pada usia kandungan ke-1 sampai ke-2, dia sangat menyukai atau mengidam bau ketiak suaminya.
Pada bulan ke-5, seorang responden mengatakan bahwa perilakunya seperti anak-anak. Yaitu dia mengidam naik mainan anak-anak. Karena takut anaknya kelak sering mengeluarkan air liur (ngileran, dalam istilah jawa), maka dia pun menuruti ngidamnya naik mainan anak-anak bersama anak-anak kecil. Namun setelah selesai naik permainan itu, dia merasa sakit perut dan embrio yang ada dalam kandungannya selalu bergerak dan berputar-putar. Dia yakin bahwa embrio yang ada dalam perutnya kaget ketika naik permainan itu, meskipun setelah konsultasi ke dokter, dokter mengatakan tidak terjadi apa-apa. 
Pada usia kandungan ke 7-8 bulan, ngidam yang sangat diinginkan mereka adalah berhubungan intim dengan suami. Salah satu responden mengatakan bahwa keinginan berhubungan intim itu 3 kali lipat dari pada keinginan di waktu-waktu biasanya. Hal ini sulit dilakukan oleh responden yang suaminya tidak berada di rumah atau merantau. Maka dia menyuruh suaminya pulang pada usia kehamilannya yang ke-8 bulan untuk memenuhi ngidamnya dan mendampinginya ketika melahirkan. Mereka merasa resah dan kecewa jika rasa ngidam mereka tidak terpenuhi.
Pantangan selama kehamilan
Pantangan yaitu larangan yang tidak boleh dilakukan oleh wanita hamil. Tidak ada pantangan dari dokter untuk wanita hamil, asalkan makanan yang dikonsumsi adalah sehat. Selain menyarankan agar mengonsumsi makanan sehat, seorang wanita hamil juga disarankan untuk sering jalan-jalan dan melakukan senam untuk ibu hamil agar janin selalu sehat dan memudahkan proses persalinan.
Meskipun demikian, para responden menjauhi hal-hal yang mereka anggap akan mengganggu kesehatan bayi dan mempersulit proses kelahiran. pantangan itu ddi antaranya adalah:
·         Tidak mandi pada waktu magrib
Mereka meyakini anak mereka akan menjadi nakal jika saat hamil mereka mandi pada waktu magrib. Karena waktu magrib adalah tempatnya kejelekan (dalam istilah Jawa disebut sandek olo)
·         Tidak menjahit
Mereka meyakini bahwa jika saat hamil, mereka menjahit, anak mereka tidak akan lahir normal, yang keluar pertama kali adalah kakinya dan kepalanya terakhir (dalam istilah Jawa disebut sungsang).
·         Tidak duduk di tengah pintu
Karena mereka yakin anak mereka akan sulit keluar ketika masa persalinan.
·         Tidak makan di dapur
Mereka meyakini jika mereka makan di dapur, maka anaknya akan bermulut besar.
·         Tidak makan sayur lembayung
Jika mereka makan sayur lembayung, mereka yakin yang lebih dahulu keluar dalam persalinan adalah darah, bukan air ketuban (dalam istilah Jawa disebut warkidang)
·         Tidak makan terong agar anaknya tidak memiliki fisik yang lemah.
·         Tidak makan telur agar anaknya keluar dari kandungan dengan lancar.
Keyakinan pantangan-pantangan itu juga telah diterapkan oleh wanita-wanita hamil sebelum mereka.
Pembahasan
Dari hasil di atas dapat diketahui bahwa pada bulan pertama kehamilan mereka tidak mengalami perubahan fisik dan psikis.
Pada bulan ke-2 sampai ke-3 pola makan mereka berubah, ketertarikan makan menurun drastis. Karena mereka selalu merasa mual dan muntah. Hal ini karena telah diproduksinya hormon HCG (Human Chorionic Gonadotropin) dalam tubuh yang dihasilkan oleh plasenta janin, sehingga menyebabkan reaksi mual dan muntah. Perilaku mereka menjadi manja dan selalu ingin disayang oleh suami. Emosi yang sering terjadi pada mereka adalah marah karena mereka sering mencium bau tidak menyenangkan yang membuat mereka harus sering muntah. Mereka juga mengalami kepanikan dan ketakutan atas keadaan janin mereka karena mereka penurunan ketertarikan makan tersebut.
Pada bulan ke-4 sampai ke-6, ketertarikan makan mereka meningkat. Emosi mereka juga sudah mulai kembali normal. Yaitu menjadi lebih sabar dan pengertian dari pada sebelumnya, meskipun perilaku manja dan selalu ingin disayang oleh suami tetap ada.
Pada bulan ke-7 sampai ke-8, mereka kesulitan untuk beraktifitas karena besarnya kandungan mereka, bahkan juga sulit untuk bangun tidur. Emosi mereka menjadi labil kembali. Mereka sering marah, cemas, dan takut karena capek dan akan menghadapi proses persalinan.
Perilaku yang mereka tunjukkan juga mengindikasikan bahwa perilaku ngidam dan ketakutan dalam menjauhi sesuatu yang mereka percayai juga dipengaruhi factor budaya. Hal ini sebagaimana pendapat dari Kotler dan Armstrong (2004, p.180) kebudayaan adalah nilai-nilai dasar, persepsi, keinginan, dan perilaku yang dipelajari oleh anggota suatu masyarakat. Kebudayaan merupakan factor penentu keinginan dan perilaku seseorang yang paling mendasar.

B.   PENUTUP
Kesimpulan
Beberapa hal utama yang terungkap dalam penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut:
·         Perilaku ngidam disebabkan oleh beberapa factor, di antaranya yaitu factor hormonal yang diproduksi selama masa kehamilan dan factor budaya.
·         Hormone kehamilan yang diproduksi adalah HCG (Human Chorionic Gonadotropin) pada plasenta janin yang menyebabkan reaksi mual dan muntah.
·         Factor budaya juga mempengaruhi perilaku ngidam wanita hamil, mereka selalu berusaha untuk memenuhi rasa ngidam mereka agar anaknya menjadi anak yang normal, tidak sering mengeluarkan air liur. Dan mereka juga menjauhi hal-hal yang mereka yakini akan menimbulkan kesulitan dan keabnormalan pada anak mereka, yang telah membudaya di desa itu.
·         Emosi yang meraka alami sangat labil, mereka sering marah, cemas dan khawatir atas keadaan bayinya, takut dalam menghadapi proses persalinan, dan lebih manja serta menginginkan kasih sayang yang lebih dari suaminya.


Implementasi
Penelitian ini bisa diterapkan untuk memahami emosi wanita hamil yang labil, agar para suami dan orang-orang yang berhubungan dengan wanita hamil bisa mengerti dan memahami perasaan mereka.
Peneliti menyadari bahwa penelitian ini bersifat eksploratif yang masih dalam taraf penggalian dasar, oleh karena itu diperlukan penelitian-penelitian lanjutan yang lebih mendalam dengan tema yang sama. Ataupun mendapatkan ide baru dari penelitian ini untuk penelitian baru dan mendalam pada masa yang akan datang.


Referensi

Chemical Senses © Oxford University Press 2004, vol. 29 no. 5. A Longitudinal Descriptive Study of Self-reported Abnormal Smell and Taste Perception in Pregnant Women. Nordin, Steven, dkk. Department of Psychology, Umeå University, Sweden, San Diego State University, USA and Department of Clinical Sciences, Obstetrics and Gynecology.
West J Med Volume 173. July 2000. Pica during pregnancy in low-income women born in Mexico. Simpson, Ellen, dkk. Division of Human Genetics Department of Pediatrics University of California, Irvine Medical Center Orange, CA 92668.
The American Journal Of Clinical Nutrition. 1999; 70: 277-84. Printed in USA. Sweet taste and intake of sweet foods in normal pregnancy and pregnancy complicated by gestational diabetes mellitus. Befevly J. Tepper.
Wijaya, Serli. Studi Eksploratif Perilaku Mahasiswa Uk. Petra Dalam Memilih Fast Food Restaurant Dan Non Fast Food Restaurant Di Surabaya. Faculty of Economics Petra Christian University.
http://www.ayahbunda.co.id/Artikel/Gizi+dan+Kesehatan/Kehamilan/kiat.mengendalikan.ngidam.ibu.hamil/001/001/1027/3


Tidak ada komentar:

Posting Komentar