Senin, 14 Mei 2012

PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL BAYI

my nephew, kiki
Rifki Ardiansyah Umasugi & Nur Azizah

Psikososial merupakan hal yang penting bagi bayi. Karena pada tahap perkembangan psikososial bayi inilah yang akan mempengaruhi perkembangan-perkembangan bayi selanjutnya dalam berinteraksi dengan masyarakat dan lingkungan sekitar. Diantara fakto-faktor yang mempengaruhi psikososial bayi yaitu:
·         - Emosi
·         - Temperamen
·         - Attachment
·         - Rasa percaya
·         - Otonomi
 1.    Perkembangan Emosi pada Masa Bayi
Emosi yaitu respon yang timbul dari stimulus yang menyebabkan perubahan-perubahan fisiologis disertai dengan perasaan kuat.
Bayi mengekspresikan sebagian emosi jauh lebih awal dibandingkan dengan beberapa emosi lain, lalu mengekspresikan dengan rinci dua perilaku ekspresif emosional yang penting. Yaitu menangis dan tersenyum.
Untuk menentukan apakah bayi benar-benar mengekspresikan suatu emosi tertentu, kita memerlukan beberapa system untuk mengukur emosi. Menurut Carroll Izard (1982) mengembangkan suatu sistem semacam itu, Maximally Discriminative Facial Movement Coding Symtem ( Sistem Koding Gerakan Wajah Diskriminatif Maksimum) disingkat “MAX” ialah system pengkodean ekspresi wajah bayi yang berkaitan dengan emosi yang dikembangkan oleh Izard. Dengan menggunakan MAX, pengkode memperhatikan rekaman gerakan lambat reaksi wajah bayi terhadap rangsangan. Rangsangan yang diberikan diantaranya ialah memberi bayi kubus air, menempelkan isolasi pada punggung bayi, memberi bayi mainan kesukaannya dan kemudian mengambilnya, memisahkan bayi dari ibunya lalu mempertemukan mereka, menyuruh seorang asing mendekati bayi, mengekang kepala bayi, menaruh jam yang berdetik ke dekat telinga bayi, meletuskan balon di depan wajah bayi, dan memberi kamper(kapur barus) untuk dibaui dan kulit jeruk asam serta jus jeruk untuk dikecap.
Kemarahan diperlihatkan ketika alis bayi menurun secara tajam dan menyatu, mata menyempit atau mengedip, dan mulut terbuka dalam bentuk kaku dan persegi. Berdasarkan system klasifukasi Izard, minat, stres, dan rasa muak muncul pada saat lahir dan senyuman sosial tampak pada usia kira-kira 4 hingga 6 minggu. Kemarahan, keheranan, dan kesedihan terjadi pada saat usia kira-kira 3-4 bulan, ketakutan diperlihatkan pada usia kira-kira 5 hingga 7 bulan, rasa malu dan enggan diperlihatkan pada usia kira-kira 6 hingga 8 bulan, dan rasa hina serta rasa bersalah tidak muncul hingga usia 2 tahun.

a.    Menangis
Menangis adalah mekanisme yang paling penting yang dikembangkan oleh bayi yang baru lahir untuk berkomunikasi dengan dunianya. Hal ini benar karena tangisan pertama bayi membuktikan adanya udara dalam paru-paru bayi. Tangisan juga dapat membantu dokter atau peneliti untuk meneliti sesuatu tentang system syaraf pusat.
Tangisan bayi ada 3 macam yaitu:
·         Tangisan dasar (basic cry) ialah suatu pola berirama yang biasanya terdiri dari satu tangisan, yang diikuti oleh diam sesaat, diteruskan dengan satu siulan kecil pendek dengan nada agak lebih tinggi dibandingkan dengan tangisan utama, lalu diakhiri dengan istirahat singkat sebelum tangisan berikutnya, biasanya tangisan seperti ini adalah pada saat bayi lapar.
·         Tangisan kemarahan (angry cry) ialah suatu variasi dari tangisan dasar. Akan tetapi, di dalam tangisan kemarahan lebih banyak udara dikeluarkan melalui tali suara.
·         Tangisan kesakitan (pain cry) yang dirangsang oleh rangsangan yang intensitasnya tinggi, berbeda dari tipe tangisan lain dalam arti ada suatu kemunculan tangisan keras yang tiba-tiba tanpa rintihan atau erangan pendahuluan, dan suatu tangisan awal yang panjang diikuti oleh suatu upaya menarik nafas cukup lama.

b.    Senyuman
Senyuman ialah perilaku komunikatif bayi yang juga penting.
Ada dua tipe senyuman pada bayi yaitu:
·         Senyuman Refleks
Senyuman refleksi tidak terjadi sebagai respons terhadap rangsangan dari luar. Senyuman ini tampak selama bulan pertama setelah kelahiran, biasanya selama pola tidur yang tidak teratur dan bukan ketika bayi sedang berada dalam keadaan terjaga.
·      Senym Sosial
Sebaliknya, senyuman sosial terjadi sebagai respons terhadap suatu rangsang dari luar, yaitu pada awal perkembangan, khususnya sebagai respons terhadap suatu wajah yang ia lihat. Senyuman sosial tidak terjadi hingga usia 2 hingga 3 bulan.
2. Perkembangan Temperamen
Temperamen (tabi’at, perangai) merupakan salah suatu dimensi psikologis yang berhubungan dengan aktivitas fisik dan emosional serta merespons. Secara sederhana,Goleman merumuskan temperamen sebagai “The moods that typify our emotional life”. Jelasnya temperamen adalah perbedaan kualitas dan intensitas respons emosional serta pengaturan diri yang memunculkan perilaku individual yang terlihat sejak lahir, yang relative stabil dan menetap dari waktu ke waktu dan pada semua situasi, yang dipengaruhi oleh interaksi antara pembawaan, kematangan, dan pengalaman.
Sejak lahir, bayi memperlihatkan berbagai aktivitas individual yang berbeda-beda. Beberapa bayi sangat aktif menggerakkan tangan, kaki, dan mulutnya tanpa henti-hentinya, tetapi bayi yang lain terlihat lebih tenang. Sebagian bayi merespons dengan hangat kepada orang lain, sementara yang lain cerewet, rewel dan susah diatur. Semua gaya perilaku ini merupakan temperamen seorang bayi.
Kebanyakan peneliti mengakui adanya perbedaan dalam kecenderungan reaksi utama, seperti kepekaan terhadap rangsangan visual atau verbal, respons emosional, dan keramahan dari bayi yang baru lahir. Peneliti Alexander Tomas dan Stella Chess misalnya, memperlihatkan adanya perbedaan dalam tingkatan aktivitas bayi, keteraturan dari fungsi jasmani (makan, tidur, dan buang air), pendekatan terhadap stimuli dan situasi baru. Kemampuan beradaptasi dengan situasi dan orang-orang baru, reaksi emosional, kepekaan terhadap rangsangan, kualitas suasana hati, dan jangkauan perhatian.Dari hasil penelitian ini, Alexander Tomas dan Stella Chess mengklasifikan temperamen atas tiga pola dasar:
a.    Bayi yang bertemperamen sedang (easy babies)
Menunjukkan suasana hati yang lebih positif, keteraturan fungsi tubuh, dan mudah beradaptasi dengan situasi baru.
b.    Bayi yang bertemperamen tinggi (difficult babies)
Memperlihatkan suasana hati yang negative, fungsi-fungsi tubuh tidak teratur, dan stress dalam menghadapi situasi baru.
c.    Anak yang bertemperamen rendah (slow to warm up babies)
Memiliki tingkat aktivitas yang rendah dan secara relatif tidak dapat menyesuaikan diri dengan pengalaman baru, suka murung serta memperlihatkan intensitas suasana hati yang rendah.
Pola-pola temperamen tersebut merupakan suatu karakteristik tetap sepanjang masa bayi dan anak-anak yang akan dibentuk dan diperbarui oleh pengalaman anak dikemudian hari. Misalnya anak usia 2 tahun yang digolongkan ekstrem sebagai pemalu dan penakut pada usia 8 tahun. Ini menunjukkan adanya konsistensi perkembangan temperamen sejak lahir. Konsistensi temperamen ini di tentukan oleh faktor keturunan, kematangan, dan pengalaman, terutama pola pengasuhan orang tua.

3. Perkembangan Attachment

Bayi yang baru lahir telah memiliki perasaan sosial untuk berinteraksi dan melakukan penyesuaian sosial terhadap orang lain. Oleh sebab itu, tidak heran kalau bayi dalam semua kebudayaan mengembangkan kontak dan ikatan sosial yang kuat dengan orang yang mengasuhnya, terutama ibunya.
Kontak sosial pertama bayi dengan pengasuhnya ini diperkirakan mulai terjadi pada usia 2 bulan, yaitu pada saat bayi mulai tersenyum ketika memandang wajah ibunya dan hal itu untuk memperkukuh hubungan ibu dan anak. Perkembangan awal kontak sosial pada bayi ini merupakan dasar bagi pembentukan hubungan sosial di kemudian hari.
Pada usia 8 bulan, muncul “objek permanen” bersamaam dengan kekhawatiran terhadap orang yang tidak di kenal, yang disebut stranger anciety. Pada masa ini bayi mulai memperlihatkan reaksi ketika didekati oleh orang yang tidak dikenalnya. Setelah usia 8 bulan, seorang bayi dapat membentuk gambaran mental tentang orang- orang atau keadaan, yang disebut skema, pada usia 12 bulan umumnya bayi melekat erat pada orang tuanya ketika ketakutan atau mengira akan ditinggalkan. Ketika mereka bersama kembali, mereka akan mengumbar senyuman dan memeluk orang tuanya, perasaan cinta antara bayi dan ibu ini disebut dengan attachment.
Attachment adalah sebuah istilah yang pertama kali diperkenalkan oleh J. Bowlby tahun 1958 untuk menggambarkan pertalian atau ikatan antara ibu dan anak. Kebanyakan ahli psikologi perkembangan mempercayai bahwa attachment pada bayi merupakan dasar utama bagi pembentukan kehidupan sosial anak di kemudian hari. Menurut J. Bowlby, pentingnya attachment dalam tahun pertama kehidupan bayi adalah karena bayi dan ibunya secara naluriah memiliki keinginan untuk membentuk suatu katerikatan.
Ada 4 tahap perkembangan attachment pada bayi :
1.    Tahap indiscriminate sosibility (0-2 bulan),
Bayi tidak membedakan antara orang- orang dan merasa senang dengan atau menerima dengan senang orang yang dikenal dan yang tidak dikenal.
2.    Tahap attachment is the makin (2-7 bulan),
Bayi mulai mengakui dan menyukai orang-orang yang dikenal, tersenyum pada orang yang lebih dikenal.
3.    Tahap specific, clear-cut attachment (7-24 bulan),
Bayi telah mengembangkan keterikatan dengan ibu atau pengasuh pertama lainnya dan akan berusaha untuk senantiasa dekat dengannya, akan menangis ketika berpisah dengannya.
4.    Tahap goal-coordination partenerships (24- seterusnya)
Bayi merasa lebih aman dalam berhubungan dengan pengasuh pertama, bayi tidak merasa sedih selama berpisah dengan ibunya atau pengasuh pertamanya dalam jangka waktu yang lama.
Kegagalan membentuk keterikatan dengan sesorang atau beberapa orang pada tahun pertama kehidupannya, akan berakibat ketidakmampuan mempererat hubungan sosial yang akrab pada masa dewasa. Penelitian Baltes dan rekan-rekannya juga menunjukkan bahwa ibu-ibu yang diperkenankan berinteraksi segera setelah dia melahirkan anaknya, ternyata di kemudian hari jarang ditemui persoalan- persoalan, seperti ibu yang melalaikan anak, menyiksa atau pergi meninggalkan anak.
Sejumlah peneliti berkesimpulan bahwa semua bayi terikat pada ibunya dalam tahun pertama.Akan tetapi kualitas ikatan tersebut berbeda-beda, sesuai dengan tingkat respon ibu terhadap kebutuhan mereka. Ainswoth (1979) membedakan keterikatan bayi atas dua bentuk, yaitu:
·      keterikatan yang aman (secure attachment)
·      keterikatan yang tidak aman (insecure attachment).
4. Perkembangan Rasa Percaya
Menurut Erik Erikson (1968), pada tahun pertama (bayi usia 1-2 bulan) kehidupan ditandai dengan adanya tahap perkembangan rasa percaya dan rasa tidak percaya. Erikson meyakini bayi dapat mempelajari rasa percaya apabila mereka diasuh dengan cara yang konsisten. Rasa tidak percaya dapat muncul apabila bayi tidak mendapatkan perlakuan yang baik. Gagasannya tersebut banyak persamaanya dengan konsep Ainsworth tentang keterikatan yang aman ( secure attachment).
Rasa percaya dan tidak percaya tidak muncul hanya pada tahun pertama kehidupan saja.Tetapi rasa tersebut muncul lagi pada tahap perkembangan selanjutnya. Beberapa hal yang harus diperhatikan pada saat anak-anak memasuki sekolah dengan rasa percaya dan tidak percaya dapat mempercayai guru tertentu yang banyak memberikan waktu baginya sehingga membuatnya sebagai orang yang dapat dipercayai. Pada kesempatan kedua ini , anak mengatasi rasa tidak percaya sebalumnya. Sebaliknya, anak-anak yang meninggalkan masa bayi dengan rasa percaya pasti pada tahap selanjutnya masih dapat memiliki rasa tidak percaya, yang mungkin terjadi karena adanya konflik atau perceraian kedua orang tuanya. Erikson menekankan bahwa tahun kedua kehidupan ditandai oleh tahap otonomi versus rasa malu dan ragu-ragu.
Ketika bayi baru lahir, maka terdapat tahapan sampai bayi berusia dua bulan sebagai berikut:
·       Bayi 0-1 bulan
Kelekatan hanya bisa tercipta jikalau orang tua mengenal bayi dan mengurus sendiri bayi sejak awalnya. Jika orang tua sedang menantikan kelahiran bayi pertama, lebih baik untuk memilih lahir normal (jika memungkinkan). Sekalipun kedengarannya lebih mengerikan dibandingkan dengan operasi, kelahiran normal memberikan memory tersendiri antara anda-suami-anak. Memory itu dapat mempererat hubungan orang tua. Dalam tahap ini, orang tua utamanya ibu lebih baik memilih tidur sekamar dengan bayi.Keberadaan ayah di tengah malam juga sangat menolong.(bread feeding father)
·      Bayi 1-2 bulan
Sekitar usia 6 minggu, sistem penglihatan bayi sudah mulai berkembang. Pada level ini, bayi mulai memasuki level interaksi sosialnya. Ia mulai menatap wajah ibu dan mulai membesarkan matanya. Pada saat inilah untuk pertama kalinya ibu merasa si bayi memandangi wajahnya dan mulai berinteraksi lebih hangat lagi dengan si bayi.
Bagi orang tua hendaknya memberikan mainan yang berbunyi di dekat mata bayi dan gerakan dari kiri ke kanan dan sebaliknya, jauh - dekat, dan sebaliknya.Hal ini dapat melatih penglihatan bayi. Pada waktu usia 2 bulan, orang tua akan menemukan bayi tersenyum manis didepannya. Bukan lagi senyum refleks pada saat tidur, tapi senyum yang memancing respon anda untuk membuatnya tersenyum lebih lebar.Pada saat inilah orang tua mengetahui bahwa tiba saatnya perannya dibutuhkan untuk mulai pendidikan sosial bagi bayi. Sekalipun pada usia ini senyumannya belum terarah kepada orang tertentu (karena keterbatasan penglihatan), stimulasi orang tua sangatlah dibutuhkan. Pada saat bayi tersenyum, orang tua hendaknya memberikan respon dengan mengajak berbicara, tersenyum kembali, atau menggelitik dagunya. Bayi akan tersenyum kembali, kadang lebih lebar atau bahkan tertawa dan mengeluarkan suara. Respon bayi ini akan mendorong orang tua untuk memberikan stimulasi kembali. Maka terjadilah interaksi atau komunikasi yang sederhana antara bayi dengan orang tua. Diketemukan bahwa interaksi seperti ini mempengaruhi perkembangan kecerdasan anak. Anak-anak yang mencapai nilai tinggi dalam test intelegensi telah mendapatkan stimulasi yang baik dari orang tua ketika mereka masih bayi: orang tua mengajak berbicara, tersenyum, bermain, mendengarkan, meniru, dan memberikan respon yang konstan kepada senyuman bayi.
Pada usia 2 bulan bayi akan menggapaikan tangannya di hadapan mukanya. Pada saat seperti itu orang tua dapat membiarkannya sendiri di baby box dan pergi mengerjakan hal-hal lain.

 
5.  Perkembangan Otonomi
Menurut Chaplin (2002), otonomi adalah kebebasan individu manusia untuk memilih, untuk menjadi kesatuan yang bisa memerintah, menguasai dan menentukan dirinya sendiri.  Menurut Erikson,. Pada tahap ini, bayi tidak hanya dapat berjalan, tetapi mereka juga dapat memanjat, membuka dan menutup , menjatukan, menolak dan menarik, memegang otonomi atau kemandirian merupakan tahap ke dua perkembangan psikososial yang berlangsung pada akhir masa bayi dan masa baru pandai berjalan. Otonomi dibangun di atas perkembangan kemampuan mental dan kemampuan motorikdan melepaskan. Bayi merasa bangga dengan prestasi ini dan ingin melakukan segala sesuatu sendiri. Selanjtnya mereka juga dapat belajar mengendalikan otot mereka dan dorongan keinginan diri mereka sendiri.
Dengan demikian, setelah memperoleh  kepercayaan dari pengasuh mereka, bayi mulai menemukan bahwa perilaku mereka adalah milik mereka sendiri. Mereka mulai menyatakan rasa mandiri atau otonomi mereka. Mereka menyadari kemauan mereka.  Pada tahap ini bila orang tua selalu memberikan dorongan kepada anak agar dapat berdiri di atas dua kaki mereka sendiri, sambil melatih kemampuan-kemampuan mereka, maka anak akan mampu mengembangkan pengendalian atas otot, dorongan,  lingkungan dan diri sendiri (otonom). Sebaliknya, jika orang tua cenderung menuntut terlalu banyak atau terlalu membatasi hak untuk menyelidiki lingkungannya, maka anak akan mengembangkan suatu rasa malu dan ragu-ragu yang berlebihan tentang kemampuan mereka untuk mengendalikan diri mereka sendiri dan dunia mereka.
Erikson yakin tahap otonomi versus rasa malu dan ragu-ragu memiliki implikasi yang penting bagi perkembangan kemandirian dan identitas selama remaja. Perkembangan otonomi selama tahun-tahun balita memberi  remaja dorongan untuk menjadi individu yang mandiri , yang dapat memiliki dan menentukan  masa depa mereka sendiri. Meskipun demikian menurut Santrock (1995), terlalu banyak otonomi sama bahayanya dengan terlalu sedikit otonomi. Pada tahap ini jika bayi mempercayai pengasuhnya, mereka akan menegaskan independensi dan menyadari kehendaknya sendiri. Jika bayi terlalu banyak dibatasi, mereka akan mengembangkan sikap malu dan ragu. Tahap ini berlangsung ketika bayi berusia sekitar 1-2 tahun.


 
6. Kesimpulan
Perkembangan psikososial berhubungan dengan perubahan-perubahan perasaan atau emosi dan kepribadian serta perubahan dalam bagaimana individu berhubungan dengan orang lain. Ada beberapa hal penting yang berkaitan dengan perkembangan psikososial pada masa bayi. Di antaranya yaitu:
a.    Emosi yaitu respon yang timbul dari stimulus yang menyebabkan perubahan-perubahan fisiologis disertai dengan perasaan kuat.
b.    Bayi mengekspresikan dengan rinci dua perilaku ekspresif emosional yang penting., yaitu menangis dan tersenyum.
c.    Salah satu system untuk mengukur emosi yaitu MAX (Maximally Discriminative Facial Movement Coding Symtem/Sistem Koding Gerakan Wajah Diskriminatif Maksimum) yang dikembangkan oleh Carrol Izard.
d.   Tangisan ada tiga macam, yaitu:
·         Tangisan dasar (basic cry)
·         Tangisan kemarahan (angry cry)
·         Tangisan kesakitan (pain cry)
e.    Senyum pada bayi ada 2, yaitu: Senyum refleks dan senyum sosial
f.     temperamen adalah perbedaan kualitas dan intensitas respons emosional serta pengaturan diri yang memunculkan perilaku individual yang terlihat sejak lahir, yang relative stabil dan menetap dari waktu ke waktu dan pada semua situasi.
g.    Konsistensi temperamen ini di tentukan oleh faktor keturunan, kematangan, dan pengalaman, terutama pola pengasuhan orang tua.
h.    Attachment adalah sebuah istilah yang pertama kali diperkenalkan oleh J. Bowlby tahun 1958 untuk menggambarkan pertalian atau ikatan antara ibu dan anak
i.      attachment pada bayi merupakan dasar utama bagi pembentukan kehidupan sosial anak di kemudian hari
j.      Menurut Erik Erikson (1968), pada tahun pertama (bayi usia 1-2 bulan) kehidupan ditandai dengan adanya tahap perkembangan rasa percaya dan rasa tidak percaya.
k.    Gagasannya ini banyak persamaanya dengan konsep Ainsworth tentang keterikatan yang aman (secure attachment).
l.      otonomi atau kemandirian merupakan tahap ke dua perkembangan psikososial yang berlangsung pada akhir masa bayi dan masa baru pandai berjalan. Otonomi dibangun di atas perkembangan kemampuan mental dan kemampuan motorik.
REFERENSI

Santrock, John W. Life Span Development. 2002. Erlangga: Jakarta.
Santrock, John W. Perkembangan Anak. 2002. Erlangga: Jakarta.
Desmita. Psikologi Perkembangan. 2007. PT Remaja Rosdakarya:  Bandung.
Yuliani Rohmah, Elfi. Psikologi Perkembangan. 2005. Teras: Yogyakarta.
Ahmadi, Abu dan Munawwar Sholeh. Psikologi Perkembangan. 2005. PT. Rineka: Jakarta.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar