![]() |
| my nephew, kiki |
![]() |
| Rifki Ardiansyah Umasugi & Nur Azizah |
Psikososial merupakan hal yang penting bagi
bayi. Karena pada tahap perkembangan psikososial bayi inilah yang akan
mempengaruhi perkembangan-perkembangan bayi selanjutnya dalam berinteraksi
dengan masyarakat dan lingkungan sekitar. Diantara fakto-faktor yang
mempengaruhi psikososial bayi yaitu:
·
- Emosi
·
- Temperamen
·
- Attachment
·
- Rasa percaya
·
- Otonomi
1.
Perkembangan Emosi pada Masa Bayi
Emosi yaitu respon yang timbul dari stimulus yang
menyebabkan perubahan-perubahan fisiologis disertai dengan perasaan kuat.
Bayi mengekspresikan sebagian emosi jauh lebih awal dibandingkan
dengan beberapa emosi lain, lalu mengekspresikan dengan rinci
dua perilaku ekspresif emosional yang penting. Yaitu menangis
dan tersenyum.
Untuk menentukan apakah bayi benar-benar mengekspresikan suatu
emosi tertentu, kita memerlukan beberapa system untuk mengukur emosi. Menurut
Carroll Izard (1982) mengembangkan suatu sistem semacam itu, Maximally
Discriminative Facial Movement Coding Symtem ( Sistem Koding Gerakan Wajah
Diskriminatif Maksimum) disingkat “MAX” ialah system pengkodean ekspresi wajah
bayi yang berkaitan dengan emosi yang dikembangkan oleh Izard. Dengan
menggunakan MAX, pengkode memperhatikan rekaman gerakan lambat reaksi wajah
bayi terhadap rangsangan. Rangsangan yang diberikan diantaranya ialah memberi
bayi kubus air, menempelkan isolasi pada punggung bayi, memberi bayi mainan
kesukaannya dan kemudian mengambilnya, memisahkan bayi dari ibunya lalu
mempertemukan mereka, menyuruh seorang asing mendekati bayi, mengekang kepala
bayi, menaruh jam yang berdetik ke dekat telinga bayi, meletuskan balon di
depan wajah bayi, dan memberi kamper(kapur barus) untuk dibaui dan kulit jeruk
asam serta jus jeruk untuk dikecap.
Kemarahan diperlihatkan ketika alis bayi menurun secara tajam dan
menyatu, mata menyempit atau mengedip, dan mulut terbuka dalam bentuk kaku dan
persegi. Berdasarkan system klasifukasi Izard,
minat, stres, dan rasa muak muncul pada saat lahir dan senyuman sosial tampak
pada usia kira-kira 4 hingga 6 minggu. Kemarahan, keheranan, dan kesedihan
terjadi pada saat usia kira-kira 3-4 bulan, ketakutan diperlihatkan pada usia
kira-kira 5 hingga 7 bulan, rasa malu dan enggan diperlihatkan pada usia
kira-kira 6 hingga 8 bulan, dan rasa hina serta rasa bersalah tidak muncul
hingga usia 2 tahun.
a.
Menangis
Menangis
adalah mekanisme yang paling penting yang dikembangkan
oleh bayi yang baru lahir untuk berkomunikasi dengan dunianya. Hal ini benar
karena tangisan pertama bayi membuktikan adanya udara dalam paru-paru bayi.
Tangisan juga dapat membantu dokter atau peneliti untuk meneliti sesuatu
tentang system syaraf pusat.
Tangisan bayi ada 3 macam yaitu:
·
Tangisan dasar (basic cry) ialah suatu pola
berirama yang biasanya terdiri dari satu tangisan, yang diikuti oleh diam
sesaat, diteruskan dengan satu siulan kecil pendek dengan nada agak lebih
tinggi dibandingkan dengan tangisan utama, lalu diakhiri dengan istirahat
singkat sebelum tangisan berikutnya, biasanya tangisan seperti ini adalah pada
saat bayi lapar.
·
Tangisan
kemarahan (angry cry) ialah suatu variasi dari tangisan dasar. Akan tetapi, di
dalam tangisan kemarahan lebih banyak udara dikeluarkan melalui tali suara.
·
Tangisan kesakitan (pain cry) yang dirangsang
oleh rangsangan yang intensitasnya tinggi, berbeda dari tipe tangisan lain
dalam arti ada suatu kemunculan tangisan keras yang tiba-tiba tanpa rintihan
atau erangan pendahuluan, dan suatu tangisan awal yang panjang diikuti oleh
suatu upaya menarik nafas cukup lama.
b.
Senyuman
Senyuman
ialah perilaku komunikatif bayi yang juga penting.
Ada
dua tipe senyuman pada bayi yaitu:
·
Senyuman Refleks
Senyuman
refleksi tidak terjadi sebagai respons terhadap rangsangan dari luar. Senyuman
ini tampak selama bulan pertama setelah kelahiran, biasanya selama pola tidur
yang tidak teratur dan bukan ketika bayi sedang berada dalam keadaan terjaga.
·
Senym Sosial
Sebaliknya, senyuman sosial terjadi sebagai respons terhadap suatu rangsang
dari luar, yaitu pada awal perkembangan, khususnya sebagai respons terhadap
suatu wajah yang ia lihat. Senyuman sosial tidak terjadi hingga usia 2 hingga 3
bulan.
2.
Perkembangan Temperamen
Temperamen (tabi’at, perangai) merupakan salah suatu dimensi psikologis
yang berhubungan dengan aktivitas fisik dan emosional serta merespons. Secara
sederhana,Goleman merumuskan temperamen sebagai “The moods that typify our
emotional life”. Jelasnya temperamen adalah perbedaan kualitas dan
intensitas respons emosional serta pengaturan diri yang memunculkan perilaku
individual yang terlihat sejak lahir, yang relative stabil dan menetap dari
waktu ke waktu dan pada semua situasi, yang dipengaruhi oleh interaksi antara
pembawaan, kematangan, dan pengalaman.
Sejak lahir, bayi memperlihatkan berbagai aktivitas individual yang
berbeda-beda. Beberapa bayi sangat aktif menggerakkan tangan, kaki, dan
mulutnya tanpa
henti-hentinya, tetapi bayi yang lain terlihat lebih tenang. Sebagian bayi
merespons dengan hangat kepada orang lain, sementara yang lain cerewet, rewel
dan susah diatur. Semua gaya perilaku ini merupakan temperamen seorang bayi.
Kebanyakan peneliti mengakui adanya perbedaan dalam kecenderungan
reaksi utama, seperti kepekaan terhadap rangsangan visual atau verbal, respons emosional,
dan keramahan dari bayi yang baru lahir. Peneliti Alexander Tomas dan Stella
Chess misalnya, memperlihatkan adanya perbedaan dalam tingkatan aktivitas bayi,
keteraturan dari fungsi jasmani (makan, tidur, dan buang air), pendekatan terhadap
stimuli dan situasi baru. Kemampuan beradaptasi dengan situasi dan orang-orang
baru, reaksi emosional, kepekaan terhadap rangsangan, kualitas suasana hati,
dan jangkauan perhatian.Dari hasil penelitian ini, Alexander Tomas dan Stella
Chess mengklasifikan temperamen atas tiga pola dasar:
a.
Bayi
yang bertemperamen sedang (easy babies)
Menunjukkan
suasana hati yang lebih positif, keteraturan fungsi tubuh, dan mudah
beradaptasi dengan situasi baru.
b.
Bayi
yang bertemperamen tinggi (difficult babies)
Memperlihatkan
suasana hati yang negative, fungsi-fungsi tubuh tidak teratur, dan stress dalam
menghadapi situasi baru.
c.
Anak
yang bertemperamen rendah (slow to warm up babies)
Memiliki tingkat
aktivitas yang rendah dan secara relatif tidak dapat menyesuaikan diri dengan
pengalaman baru, suka murung serta memperlihatkan intensitas suasana hati yang
rendah.
Pola-pola temperamen tersebut merupakan suatu karakteristik tetap
sepanjang masa bayi dan anak-anak yang akan dibentuk dan diperbarui oleh
pengalaman anak dikemudian hari. Misalnya anak usia 2 tahun yang digolongkan
ekstrem sebagai pemalu dan penakut pada usia 8 tahun. Ini menunjukkan adanya
konsistensi perkembangan temperamen sejak lahir. Konsistensi temperamen ini di
tentukan oleh faktor keturunan, kematangan, dan pengalaman, terutama pola
pengasuhan orang tua.
Bayi yang baru lahir telah memiliki perasaan
sosial untuk berinteraksi dan melakukan penyesuaian sosial terhadap orang lain.
Oleh sebab itu, tidak heran kalau bayi dalam semua kebudayaan mengembangkan
kontak dan ikatan sosial yang kuat dengan orang yang mengasuhnya, terutama
ibunya.
Kontak sosial pertama bayi dengan pengasuhnya
ini diperkirakan mulai terjadi pada usia 2 bulan, yaitu pada saat bayi mulai
tersenyum ketika memandang wajah ibunya dan hal itu untuk memperkukuh hubungan
ibu dan anak. Perkembangan awal kontak sosial pada bayi ini merupakan dasar
bagi pembentukan hubungan sosial di kemudian hari.
Pada usia 8 bulan, muncul “objek permanen”
bersamaam dengan kekhawatiran terhadap orang yang tidak di kenal, yang disebut stranger
anciety. Pada masa ini bayi mulai memperlihatkan reaksi ketika didekati
oleh orang yang
tidak dikenalnya. Setelah usia 8 bulan, seorang bayi dapat membentuk gambaran
mental tentang orang- orang atau keadaan, yang disebut skema, pada usia
12 bulan umumnya bayi melekat erat pada orang tuanya ketika ketakutan atau
mengira akan ditinggalkan. Ketika mereka bersama kembali, mereka akan mengumbar
senyuman dan memeluk orang tuanya, perasaan cinta antara bayi dan ibu ini
disebut dengan attachment.
Attachment adalah sebuah istilah yang pertama kali
diperkenalkan oleh J. Bowlby tahun 1958 untuk menggambarkan pertalian atau
ikatan antara ibu dan anak. Kebanyakan ahli
psikologi perkembangan mempercayai bahwa attachment pada bayi merupakan dasar
utama bagi pembentukan kehidupan sosial anak di kemudian hari. Menurut J.
Bowlby, pentingnya attachment dalam tahun pertama kehidupan bayi adalah karena
bayi dan ibunya secara naluriah memiliki keinginan untuk membentuk suatu katerikatan.
Ada 4 tahap perkembangan
attachment pada bayi :
1.
Tahap indiscriminate sosibility
(0-2 bulan),
Bayi tidak
membedakan antara orang- orang dan merasa senang dengan atau menerima dengan
senang orang yang dikenal dan yang tidak dikenal.
2.
Tahap attachment is the makin
(2-7 bulan),
Bayi mulai
mengakui dan menyukai orang-orang yang dikenal, tersenyum pada orang yang lebih
dikenal.
3.
Tahap specific, clear-cut attachment (7-24 bulan),
Bayi telah
mengembangkan keterikatan dengan ibu atau pengasuh pertama lainnya dan akan
berusaha untuk senantiasa dekat dengannya, akan menangis ketika berpisah
dengannya.
4.
Tahap goal-coordination partenerships
(24- seterusnya)
Bayi merasa
lebih aman dalam berhubungan dengan pengasuh pertama, bayi tidak merasa sedih
selama berpisah dengan ibunya atau pengasuh pertamanya dalam jangka waktu yang
lama.
Kegagalan membentuk
keterikatan dengan sesorang atau beberapa orang pada tahun pertama
kehidupannya, akan berakibat ketidakmampuan mempererat
hubungan sosial yang akrab pada masa dewasa. Penelitian Baltes dan
rekan-rekannya juga menunjukkan bahwa ibu-ibu yang diperkenankan berinteraksi
segera setelah dia melahirkan anaknya, ternyata di kemudian hari jarang ditemui
persoalan- persoalan, seperti ibu yang melalaikan anak, menyiksa atau pergi
meninggalkan anak.
Sejumlah peneliti berkesimpulan bahwa semua
bayi terikat pada ibunya dalam tahun pertama.Akan tetapi kualitas ikatan
tersebut berbeda-beda, sesuai dengan tingkat respon ibu terhadap kebutuhan
mereka. Ainswoth (1979) membedakan keterikatan bayi atas dua bentuk, yaitu:
·
keterikatan yang aman (secure attachment)
·
keterikatan yang tidak aman (insecure
attachment).
4. Perkembangan Rasa Percaya
Menurut Erik
Erikson (1968), pada tahun pertama (bayi usia 1-2 bulan) kehidupan ditandai
dengan adanya tahap perkembangan rasa percaya dan rasa tidak percaya. Erikson
meyakini bayi dapat mempelajari rasa percaya apabila mereka diasuh dengan cara
yang konsisten. Rasa tidak percaya dapat muncul apabila bayi tidak mendapatkan
perlakuan yang baik. Gagasannya tersebut banyak persamaanya dengan konsep
Ainsworth tentang keterikatan yang aman ( secure attachment).
Rasa percaya
dan tidak percaya tidak muncul hanya pada tahun pertama kehidupan saja.Tetapi
rasa tersebut muncul lagi pada tahap perkembangan selanjutnya. Beberapa hal yang harus diperhatikan pada saat anak-anak memasuki sekolah
dengan rasa percaya dan tidak percaya dapat mempercayai guru tertentu yang banyak
memberikan waktu baginya sehingga membuatnya sebagai orang yang dapat
dipercayai. Pada
kesempatan kedua ini , anak mengatasi rasa tidak percaya sebalumnya.
Sebaliknya, anak-anak yang meninggalkan masa bayi dengan rasa percaya pasti
pada tahap selanjutnya masih dapat memiliki rasa tidak percaya, yang mungkin
terjadi karena adanya konflik atau perceraian kedua orang tuanya. Erikson
menekankan bahwa tahun kedua kehidupan ditandai oleh tahap otonomi versus rasa
malu dan ragu-ragu.
Ketika bayi baru lahir, maka terdapat tahapan
sampai bayi berusia dua bulan sebagai berikut:
·
Bayi 0-1 bulan
Kelekatan hanya bisa tercipta jikalau orang tua
mengenal bayi dan mengurus sendiri bayi sejak awalnya. Jika orang tua sedang menantikan kelahiran bayi
pertama, lebih baik untuk memilih lahir normal (jika memungkinkan). Sekalipun kedengarannya lebih mengerikan
dibandingkan dengan operasi, kelahiran normal memberikan memory
tersendiri antara anda-suami-anak. Memory itu dapat mempererat hubungan orang tua. Dalam tahap ini, orang tua utamanya ibu lebih
baik memilih tidur sekamar dengan bayi.Keberadaan ayah di tengah malam juga
sangat menolong.(bread feeding father)
· Bayi
1-2 bulan
Sekitar usia 6
minggu, sistem penglihatan bayi sudah mulai berkembang. Pada level ini, bayi
mulai memasuki level interaksi sosialnya. Ia mulai menatap wajah ibu dan mulai
membesarkan matanya. Pada saat inilah untuk pertama kalinya ibu merasa si bayi
memandangi wajahnya dan mulai berinteraksi lebih hangat lagi dengan si bayi.
Bagi orang tua
hendaknya memberikan mainan yang berbunyi di dekat mata bayi dan gerakan dari
kiri ke kanan dan sebaliknya, jauh - dekat, dan sebaliknya.Hal ini dapat
melatih penglihatan bayi. Pada waktu usia 2 bulan, orang tua akan menemukan
bayi tersenyum manis didepannya. Bukan lagi senyum refleks pada saat tidur,
tapi senyum yang memancing respon anda untuk membuatnya tersenyum lebih
lebar.Pada saat inilah orang tua mengetahui bahwa tiba saatnya perannya
dibutuhkan untuk mulai pendidikan sosial bagi bayi. Sekalipun pada usia ini senyumannya
belum terarah kepada orang tertentu (karena keterbatasan penglihatan),
stimulasi orang tua sangatlah dibutuhkan. Pada saat bayi tersenyum, orang tua
hendaknya memberikan respon dengan mengajak berbicara, tersenyum kembali, atau
menggelitik dagunya. Bayi akan tersenyum kembali, kadang lebih lebar atau
bahkan tertawa dan mengeluarkan suara. Respon bayi ini akan mendorong orang tua
untuk memberikan stimulasi kembali. Maka terjadilah interaksi atau komunikasi
yang sederhana antara bayi dengan orang tua. Diketemukan bahwa interaksi seperti ini mempengaruhi perkembangan
kecerdasan anak. Anak-anak yang mencapai nilai tinggi dalam test intelegensi
telah mendapatkan stimulasi yang baik dari orang tua ketika mereka masih bayi:
orang tua mengajak berbicara, tersenyum, bermain, mendengarkan, meniru, dan
memberikan respon yang konstan kepada senyuman bayi.
Pada usia 2
bulan bayi akan menggapaikan tangannya di hadapan mukanya. Pada saat seperti
itu orang tua dapat membiarkannya sendiri di baby box dan pergi mengerjakan
hal-hal lain.
5.
Perkembangan Otonomi
Menurut Chaplin (2002), otonomi adalah kebebasan individu manusia
untuk memilih, untuk menjadi kesatuan yang bisa memerintah, menguasai dan
menentukan dirinya sendiri. Menurut
Erikson,. Pada tahap ini, bayi tidak hanya dapat berjalan, tetapi mereka juga
dapat memanjat, membuka dan menutup , menjatukan, menolak dan menarik, memegang
otonomi atau kemandirian merupakan tahap ke dua perkembangan psikososial yang
berlangsung pada akhir masa bayi dan masa baru pandai berjalan. Otonomi
dibangun di atas perkembangan kemampuan mental dan kemampuan motorikdan
melepaskan. Bayi merasa bangga dengan prestasi ini dan ingin melakukan segala
sesuatu sendiri. Selanjtnya mereka juga dapat belajar mengendalikan otot mereka
dan dorongan keinginan diri mereka sendiri.
Dengan demikian, setelah memperoleh
kepercayaan dari pengasuh mereka, bayi mulai
menemukan bahwa perilaku mereka adalah milik mereka sendiri. Mereka mulai
menyatakan rasa mandiri atau otonomi mereka. Mereka menyadari kemauan mereka. Pada
tahap ini bila orang tua selalu memberikan dorongan kepada anak agar dapat
berdiri di atas dua kaki mereka sendiri, sambil melatih kemampuan-kemampuan
mereka, maka anak akan mampu mengembangkan pengendalian atas otot,
dorongan, lingkungan dan diri sendiri
(otonom). Sebaliknya, jika orang tua cenderung menuntut terlalu banyak atau
terlalu membatasi hak untuk menyelidiki lingkungannya, maka anak akan
mengembangkan suatu rasa malu dan ragu-ragu yang berlebihan tentang kemampuan
mereka untuk mengendalikan diri mereka sendiri dan dunia mereka.
Erikson yakin tahap otonomi versus rasa malu dan ragu-ragu memiliki
implikasi yang penting bagi perkembangan kemandirian dan identitas selama
remaja. Perkembangan otonomi selama tahun-tahun balita memberi remaja dorongan untuk menjadi individu yang
mandiri , yang dapat memiliki dan menentukan
masa depa mereka sendiri. Meskipun demikian menurut Santrock (1995),
terlalu banyak otonomi sama bahayanya dengan terlalu sedikit otonomi. Pada tahap
ini jika bayi mempercayai pengasuhnya, mereka akan menegaskan independensi dan
menyadari kehendaknya sendiri. Jika bayi terlalu banyak dibatasi, mereka akan
mengembangkan sikap malu dan ragu. Tahap ini berlangsung ketika bayi berusia
sekitar 1-2 tahun.
6. Kesimpulan
Perkembangan psikososial berhubungan dengan
perubahan-perubahan perasaan atau emosi dan kepribadian serta perubahan dalam
bagaimana individu berhubungan dengan orang lain. Ada beberapa hal penting yang
berkaitan dengan perkembangan psikososial pada masa bayi. Di antaranya yaitu:
a.
Emosi yaitu respon yang timbul dari stimulus
yang menyebabkan perubahan-perubahan fisiologis disertai dengan perasaan kuat.
b.
Bayi mengekspresikan
dengan rinci dua perilaku ekspresif emosional yang penting., yaitu menangis
dan tersenyum.
c.
Salah satu system
untuk mengukur emosi yaitu MAX (Maximally
Discriminative Facial Movement Coding Symtem/Sistem
Koding Gerakan Wajah Diskriminatif Maksimum) yang dikembangkan oleh Carrol Izard.
d. Tangisan ada tiga macam, yaitu:
·
Tangisan dasar (basic cry)
·
Tangisan
kemarahan (angry cry)
·
Tangisan kesakitan (pain cry)
e. Senyum pada bayi ada 2, yaitu: Senyum refleks dan senyum sosial
f.
temperamen
adalah perbedaan kualitas dan intensitas respons emosional serta pengaturan
diri yang memunculkan perilaku individual yang terlihat sejak lahir, yang
relative stabil dan menetap dari waktu ke waktu dan pada semua situasi.
g.
Konsistensi
temperamen ini di tentukan oleh faktor keturunan, kematangan, dan pengalaman,
terutama pola pengasuhan orang tua.
h.
Attachment
adalah sebuah istilah yang pertama kali diperkenalkan oleh J.
Bowlby tahun 1958 untuk menggambarkan pertalian atau ikatan antara ibu dan anak
i.
attachment
pada bayi merupakan dasar utama bagi pembentukan kehidupan sosial anak di
kemudian hari
j.
Menurut
Erik Erikson (1968), pada tahun pertama (bayi usia 1-2 bulan) kehidupan
ditandai dengan adanya tahap perkembangan rasa percaya dan rasa tidak percaya.
k.
Gagasannya
ini
banyak persamaanya dengan konsep Ainsworth tentang keterikatan yang aman (secure
attachment).
l.
otonomi
atau kemandirian merupakan tahap ke dua perkembangan psikososial yang
berlangsung pada akhir masa bayi dan masa baru pandai berjalan. Otonomi
dibangun di atas perkembangan kemampuan mental dan kemampuan motorik.
REFERENSI
Santrock, John W. Life Span Development. 2002.
Erlangga: Jakarta.
Santrock, John W. Perkembangan Anak. 2002.
Erlangga: Jakarta.
Desmita. Psikologi Perkembangan. 2007. PT Remaja
Rosdakarya: Bandung.
Yuliani Rohmah, Elfi. Psikologi Perkembangan.
2005. Teras: Yogyakarta.
Ahmadi, Abu dan Munawwar Sholeh. Psikologi
Perkembangan. 2005. PT. Rineka: Jakarta.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar