Senin, 14 Mei 2012

ARCHETYPE

Arketipe (Pola Dasar)

Kita hidup di dunia ini penuh dengan symbol-simbol. Dan simbol ini menjelaskan kepada kita tentang sebuah hubungan baik kepada orang lain atau hubungan kita dengan alam semesta. Simbol-simbol ini, menjadi esensi murni dari sifat primordial yang benar-benar nyata. Hal ini telah dikandung dari bawah sadar kolektif yang terdiri dari bentuk-bentuk yang abadi, dan merupakan naluri dan warisan semua umat manusia sementara sadar kolektif ini memberikan arti simbol itu sendiri berupa harapan dan hubungan yang nyata.
Carl Gustav Jung (1875-1961), pada awalnya seorang murid Freud, tetapi pindah dari Freud pendekatan psiko-analitis untuk mengembangkan sistem yang kaya simbol-simbol sepenuhnya sendiri. Bagi Jung, jiwa manusia hidup terpisah dalam tiga bagian: sadar, ketidaksadaran pribadi dan ketidaksadaran kolektif. Jung percaya bahwa "ketidaksadaran kolektif adalah dasar dari apa yang dahulu kala disebut 'simpati dari segala sesuatu'". Arketipe, kuat angka-angka dan simbol universal hidup di bawah sadar pribadi dan kolektif, membentuk persepsi dan pengalaman kita. Jung sangat perhatian dalam mendefinisikan  archetype ini. Sebagai psikolog, ia berusaha untuk memahami peran bentuk-bentuk permainan dalam kesadaran kita. Dia memiliki pengetahuan yang tak habis-habisnya dari sumber mitologi dan mencari hubungan dari pengetahuan yang bersifat tradisional. Melalui penelitian ini ia menemukan beberapa tema utama dan dalam bukunya "The Archetypes and the Collective Unconscious", ia menguraikan sebuah penemuan tema terpenting dan fenomenal yaitu Shadow, Trickster, Anima, Animus, Great Mother, Wise Old Man, Child, Transformation, Mandala and individuation of Self.
Archetype adalah karakter utama yang mempresentasikan diri individu dalam mempersepsikan pengalamannya. Arketipe itu secara laten tersembunyi dalam semua orang dan akan diberi ungkapan simbolis menurut situasi historis di mana orang itu tercakup. Arketipe sering kali muncul dalam mitos, cerita rakyat, atau mimpi. Suku-suku di Amerika, India, Afrika, atau Asia punya mitos atau cerita rakyat.
Arketipe adalah kecenderungan yang tidak dapat dipelajari untuk mengalami hal-hal tertentu melalui jalan-jalan tertentu. Arketipe tidak memiliki wujud pada dirinya sendiri, tapi dia beraksi sebagai “prinsip penentu” pada apa-apa yang kita lihat atau lakukan. Cara kerjanya sama dengan cara kerja instink dalam teori Freud. Ng Pertama-tama seorang bayi hanya ingin makan, tanpa mengetahui apa yang akan dimakan. Dia memiliki keinginan yang tak terbatas yang harus dipenuhi oleh dan bukan sesuatu yang lain. Lambat laun, berdasarkan pengalamannya, seorang anak mulai menginginkan hal-hal yang jelas ketika dia merasa lapar.
Namun arketipe yang dimaksud Jung tidak bersifat biologis seperti insting dalam teori Freud. Arketipe adalah tuntutan-tuntutan yang bersifat spiritual. Misalnya ketika individu bermimpi sebuah benda yang panjang. Maka Freud akan menafsirkan hal itu sebagai phallus (penis) atau keinginan untuk berhubungan intim. Namun menurut Jung, hal itu belum tentu menandakan adanya kebbutuhan seksual yang tak terpenuhi. Bahkan menurut masyarakat primitive, symbol phallus biasanya menyimbolkan Mana, atau kekuatan spiritual. Symbol-simbol itu dipakai saat ruh-ruh gaib dipanggil untuk menyuburkan lahan, mengobati penyakit, dan lain sebagainya. Hubungan antara penis, antara sperma dengan benh, antara kesuburan reproduksi manusia dengan kesuburan tanah benar-benar dipahami oleh hampir setiap kebudayaan.
Bayangan
Secara umum, seks dan insting kehidupan termasuk bagian dari arketipe yang disebut bayangan. Arketipe ini berasal dari masa pra-manusia, ketika manusia masih seperti binatang, dimana perhatian kita masih tertuju pada soal bagaimana bertahan hidup dan ketika kita belum memiliki kesadaran diri.
Arketipe ini adalah sisi gelap ego dan tempat bercokolnya sisi jahat manusia. Pada dasarnya bayangan bersifat amoral (tidak baik, tidak buruk, persis seperti binatang). Symbol dari bayangan ini adalah ular, naga, monster dan setan. Dia biasanya bertugas menjaga ppintu gua atau danau yang merupakan alam bawah sadar kolektif.
Persona
Persona mempresentasikan citra public diri. Persona adalah topeng yang dipakai ketika menampilkan diri ke dunia luar. Meskipun persona awalnya adalah arketipe, namun seiring perjalanan waktu kita kan menyadarinya.  Dan dia pun adalah bagian dari diri kita yang paling jauh letaknya dalam alam bawah sadar kolektif.
2.1.2 Macam-Macam Arketipe
Jung berkata bahwa kita tidak bisa menentukan jumlah arketipe dengan pasti. Arketipe-arketipe tersebut saling tumpang tindih dan cair. Namun ada beberapa arketipe menurut Jung, yaitu:
a.       Arketipe ibu
Arketipe ibu adalah salah satu sosok yang paling baik. Kita tidak akan bisa bertahan hidup tanpa adanya hubungan dengan sosok ibu ketika kita masih bayi dan tidak berdaya.
b.      Arketipe ayah
Ayah sering disimbolkan sebagai sosok pelindung dan penguasa.
c.       Arketipe anak
Arketipe anak sering direpresentasikan dengan masa depan.
d.      Arketipe pahlawan
Arketipe pahlawan identik dengan sosok yang bijaksana dan penyelamat.
e.       Arketipe penyihir
Peran penyihir adalah menghalangi kemenangan si pahlawan dan membuat kesulitan-kesulitan.
f.       Arketipe hermaprodit
Yaitu yang melambangkan persatuan 2 hal yang berlawanan.
g.      Arketipe diri
Diri adalah arketipe yang mempresentasikan transendensi segala bentuk oposisi dan dengan begitu segala aspek di dalam kepribadian kita diekspresikan secara seimbang.
Namun secara umum, ada 12 macam arketipe, yaitu:
1.      Innocent : individu memandang hidup sebagai sesuatu yang menyenangkan dan menganggap lingkungannya sebagai sesuatu yang aman sehingga mudah percaya pada orang lain serta mempunyai optimisme yang tinggi
2.      Orphan : individu memandang hidup tidaklah mudah, sehingga ia bisa belajar dari masalah dan pengalamannya untuk lebih berhati-hati.
3.      Warrior : individu mempunyai tingkat keberanian yang tinggi dalam menghadapi segala hal.
4.      Cargiver : individu mempunyai tingkat kepedulian yang tinggi terhadap sesame.
5.      Seeker : berjiwa petualang, mandiri dalam rangka mencari jati diri, tampil beda dan beraktualisasi diri
6.      Ruler : sebagai individu alternative. Individu yang mempunyai kesiapsiagaan dalam banyak hal.
7.      Lover : individu penuh kasih sayang, suka keindahan, sangat menekankan pada pentingnya suatu hubungan.
8.      Destroyer : individu mempunyai kemampuan dalam hal kapan harus bertindak, strategic, berani meninggalkan sesuatu yang dianggapnya sudah tidak ‘layak’ dilakukan/dianut lagi
9.      Creator : individu yang Imajinatif dan kreatif, mudah mendapatkan inspirasi ketika dihadapkan pada masalah
10.  Magician : individu yang berwibawa dan mampu mengorganisir banyak orang untuk mencapai tujuan bersama
11.  Sage : individu yang Bijaksana, kritis dan analitic terhadap setiap permasalahan
12.  Jester : individu yang mampu mengkondisikan suasana (bina suasana), humoris, dianggap ‘ganjil’ jika tidak ada dan akan meng’genap’kan jika ada.
Mulia atau tidaknya pekerjaan tidak bisa hanya dilihat dari tingkatan jabatan yang disandang. Setiap pekerja mempunyai motif yang berbeda-beda dalam melakukan pekerjaannya. Motif itulah yang menentukan mulia atau tidaknya sebuah pekerjaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar