Sabtu,2 Juni 2012, Fakultas Psikologi UIN Maliki Malang menyelenggarakan acara seminar dalam rangka kuliah tamu dan turut menyemarakkan dies natalis UIN Maliki Malang. seminar kali ini bertemakan "Layanan Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus" dengan narasumber yang luar biasa yaitu seorang guru besar dan pakar psikologi pendidikan UGM Yogyakarta.
Dalam pengamatannya sebagai pakar psikologi pendidikan beliau mengatakan bahwa di Indonesia, hak yang seharusnya diperoleh Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) masih sangat minim dibandingkan dengan negara2 lain, misalnya di Jerman, hak-hak ABK sudah sangat diperhitungkan, mulai dari fasilitas kendaraan umum special, akses, serta pendidikan.
ABK merupakan anak yang mempunyai kelainan fisik, mental, emosi, dan/atau yang mempunyai bakat khusus.
selama ini masih banyak dibedakan antara pendidikan anak normal (sekolah reguler) dan ABK (Sekolah Luar Biasa). hal itu tentu berdampak negatif dan positf. ketika ABK hanya mengecap bangku SLB, maka setelah dia lulus akan mengalami beberapa hammbatan karena harus berinteraksi dan beradaptasi dengan orang-orang normal yang belum tentu mengerti dengan ABK, anak-anak normal pun kurang tahu apa yang dirasakan oleh saudara-saudara mereka yang mempunyai gangguan (kurang sikap toleransi). oleh karena itulah diadakan pencampuran antara anak-anak normal dan ABKdalm bidang pendidikan. sekolah campuran inilah yang disebut sekolah inklusi.
Unesco (2002) mendefinisikan sekolah inklusi sebagai sistem pendidikan yang mengikutsertakan anak kebutuhan khusus di sekolah umum. harapan kementran pendidikan Indonesia dengan mengikutsertakan ABK pada sekolah reguler adalah:
1. penyediaan sarana dan pra sarana pendidikan lebih efisien
2. isolasi terhadap anak yang memiliki kebutuhan khusus di tengah anak pada umumnya semakin menurun
3. sikap dan anggapan negatif masyarakat terhadap ABK semakin menurun
4. Rasa percaya diri ABK lebih meningkat
5. pendidikan khusus lebih dikenal secara langsung di mmasyarakat (Depdiknas, 2004)
Model pendidikan yang cocok untuk ABK tidak sekedar model biasa, namun diperlukan model yang special yaitu exceptional learners. Exceptional learnersmerupakan pembelajaran yang memerlukan pendidikan spesial dan layanan yang saling berkorelasi untuk mengembangkan potensi (Kaufman & Hallan, 2005).
contoh layanan special tersebut yaitu selain adanya guru general juga ada guru spesialis, tersedia buku besar, kolam renang khusus terapi dan lain-lain. Anak dalam mengawali masa pendidikannya membawa latar belakang yang berbeda-beda, mulai dari budaya, kematangan emosi, kesiapan akademik, keterampilan sosial, dan kecepatan belajar. oleh karena itulah diperlukan juga differential assesment untuk mengetahui minat, gaya belajar, dan pengetahuan yang diperoleh sebelumnya. agar anak lebih siap dalam menerima pendidikan yang akan diajarkan di kelas.
dalam sekolah inklusi itu ada berbagai model pembelajaran, diantaranya yaitu:
- kolaborative consultation
- cooperative teaching 7 other team arrengement
- curriculum & instructional strategis
- accomodation and adaption
- training general
semua anak Indonesia berhak untuk mendapatkan haknya dan hidup bahagia di dunia ini, oleh karena itu sudah sepantasnya kita menghargai anak-anak itu dengan segala kelebihan dan kelemahan mereka dan memberi suport dengan penuh cinta. karena cinta akan lebih indah jika kita mampu membagi ke siapa saja. dan agar mereka percaya diri dan menjadi penerus bangsa yang berkualitas dan amanah.
Dalam pengamatannya sebagai pakar psikologi pendidikan beliau mengatakan bahwa di Indonesia, hak yang seharusnya diperoleh Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) masih sangat minim dibandingkan dengan negara2 lain, misalnya di Jerman, hak-hak ABK sudah sangat diperhitungkan, mulai dari fasilitas kendaraan umum special, akses, serta pendidikan.
![]() | |
| Anak kembar yg salah satunya merupakan ABK, kamu pasti bisa sayang |
selama ini masih banyak dibedakan antara pendidikan anak normal (sekolah reguler) dan ABK (Sekolah Luar Biasa). hal itu tentu berdampak negatif dan positf. ketika ABK hanya mengecap bangku SLB, maka setelah dia lulus akan mengalami beberapa hammbatan karena harus berinteraksi dan beradaptasi dengan orang-orang normal yang belum tentu mengerti dengan ABK, anak-anak normal pun kurang tahu apa yang dirasakan oleh saudara-saudara mereka yang mempunyai gangguan (kurang sikap toleransi). oleh karena itulah diadakan pencampuran antara anak-anak normal dan ABKdalm bidang pendidikan. sekolah campuran inilah yang disebut sekolah inklusi.
Unesco (2002) mendefinisikan sekolah inklusi sebagai sistem pendidikan yang mengikutsertakan anak kebutuhan khusus di sekolah umum. harapan kementran pendidikan Indonesia dengan mengikutsertakan ABK pada sekolah reguler adalah:
1. penyediaan sarana dan pra sarana pendidikan lebih efisien
2. isolasi terhadap anak yang memiliki kebutuhan khusus di tengah anak pada umumnya semakin menurun
3. sikap dan anggapan negatif masyarakat terhadap ABK semakin menurun
4. Rasa percaya diri ABK lebih meningkat
5. pendidikan khusus lebih dikenal secara langsung di mmasyarakat (Depdiknas, 2004)
Model pendidikan yang cocok untuk ABK tidak sekedar model biasa, namun diperlukan model yang special yaitu exceptional learners. Exceptional learnersmerupakan pembelajaran yang memerlukan pendidikan spesial dan layanan yang saling berkorelasi untuk mengembangkan potensi (Kaufman & Hallan, 2005).
contoh layanan special tersebut yaitu selain adanya guru general juga ada guru spesialis, tersedia buku besar, kolam renang khusus terapi dan lain-lain. Anak dalam mengawali masa pendidikannya membawa latar belakang yang berbeda-beda, mulai dari budaya, kematangan emosi, kesiapan akademik, keterampilan sosial, dan kecepatan belajar. oleh karena itulah diperlukan juga differential assesment untuk mengetahui minat, gaya belajar, dan pengetahuan yang diperoleh sebelumnya. agar anak lebih siap dalam menerima pendidikan yang akan diajarkan di kelas.
dalam sekolah inklusi itu ada berbagai model pembelajaran, diantaranya yaitu:
- kolaborative consultation
- cooperative teaching 7 other team arrengement
- curriculum & instructional strategis
- accomodation and adaption
- training general
semua anak Indonesia berhak untuk mendapatkan haknya dan hidup bahagia di dunia ini, oleh karena itu sudah sepantasnya kita menghargai anak-anak itu dengan segala kelebihan dan kelemahan mereka dan memberi suport dengan penuh cinta. karena cinta akan lebih indah jika kita mampu membagi ke siapa saja. dan agar mereka percaya diri dan menjadi penerus bangsa yang berkualitas dan amanah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar